Berita Daerah 84

Written by October 16 2019

Sejak dibentuk Saka Kalpataru di Samarinda, Dinas Lingkungan Hidup Samarinda menindaklanjuti dengan mengadakan bimbingan teknis di MAN 1 Samarinda, (10/10/2019).

Ketua Majelis Pembimbing Saka Kalpataru Cabang Samarinda sekaligus Kepala Dinas Lingkungan Hidup Samarinda Nurrahmani pun membuka secara langsung bimtek tersebut.

“Saya merasa rasa bangga kepada adik-adik sekalian yang berminat dan bersemangat untuk bergabung di Saka Kalpataru Tingkat Cabang Samarinda sebagai proses pembinaan lanjutan setelah proses pembinaan dasar di gugus depan,” katanya.

Kasi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Sekaligus Ketua Pimpinan Cabang Saka Kalpataru Tingkat Cabang Samarinda, Norsamah menuturkan, tujuan Bimtek tersebut untuk memberikan pembinaan keterampilan dan pendidikan kecakapan hidup yang berkualitas di bidang pengelolaan dan pembangunan isu-isu lingkungan hidup.

Foto bersama

“Dalam Bimtek ini diberikan materi mengenai kepramukaan dan saka kalpataru. Yang tentunya lebih ditekankan pada pendidikan kesakaannya yang terdiri dari 3 Krida, antara lain Krida 3 R (Reduce, Reuse dan Recycle), Krida Perubahan Iklim dan tentang Krida Keanekaragaman Hayati. Dengan masing-masing krida terbagi lagi menjadi beberapa Syarat Kecakapan Khusus (SKK),” lanjutnya.

Sementara, narasumber untuk materi kepramukaan tentunya berasal dari Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Samarinda. Dan narasumber untuk materi saka kalpatarunya dari Yayasan Ulin yang bergerak di bidang penelitian lingkungan Hidup berkantor di Balikpapan.

Dia menjelaskan, target dari adanya saka kalpataru ini tentunya para pramuka dari golongan penegak atau pandega yang mampu menguasai 3 Krida dari saka Kalpataru ini.

“Sehingga Saka Kalpataru sebagai program terbaru dari Dinas Lingkungan Hidup dalam melebarkan sayapnya untuk mengurangi pengurangan penggunaan kantong plastik di Samarinda dapat terwujud,” tuturnya.

Norsamah menyebutkan, sebagai tindak lanjut dari bimtek tersebut adanya kegiatan rutin pendidikan kesakaan tiap minggu di pangkalan Saka Kalpatru untuk memperdalam SKK disetiap Krida tersebut.

“Kami mengharapkan adik-adik pramuka sebagai generasi muda akan mencintai dan menjaga lingkungan dengan memulai dari hal kecil, seperti hemat air dan listrik di kehidupan sehari-hari. Memilah sampah rumah tangga, antara sampah organik dan unorganik, sehingga sampah organik yang telah terpisah dapat diolah melalui kegiatan komposting serta kalau diperlukan, mengkampanyekan budaya “Zero Waste” artinya budaya bebas sampah  dengan membiasakan diri untuk tidak menggunakan kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Serta dapat menularkan budaya cinta lingkungan ini ke lingkungan sekitar mereka,” jelasnya.

Written by October 16 2019

Selama ini sampah selalu identik dengan sesuatu yang bau, kotor, sarang penyakit, tidak berguna dan menjijikan. Tetapi seiring perkembangan kesadaran dan pengetahuan masyarakat, sampah kini dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bisa bernilai ekonomis tinggi.

Sehingga Dinas Lingkungan Hidup Samarinda turun langsung ke lapangan untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada warga tentang pengelolaan sampah.

“Dengan pengelolaan sampah yang baik, memilah sampah sesuai jenisnya, merubah sampah menjadi bahan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan tidak membahayakan lingkungan,” ujar Kasi Pengurangan Sampah DLH Samarinda, Eka Noor Wahidhah.

DLH Samarinda saat memberikan pelatihan dan sosialisasi kepada warga cara mengelolah sampah

Dia menuturkan, dengan pengelolaan sampah tersebut hal ini dapat membantu untuk menekan dampak negatif sampah dan jumlah sampah terhadap lingkungan.

Eka menyebutkan dalam sosialisasi tersebut, pihaknya menyampaikan tentang pengelolaan sampah yang benar, waktu dan tempat membuang sampah yang sesuai ketentuan, tidak boleh membuang sampah sembarangan.

“Kami juga mengajarkan warga untuk membuat barang yang berasal dari sampah yang sudah tidak digunakan yang bisa digunakan sehari-hari seperti membuat kerajinan dari botol plastik, daur ulang dari kemasan plastik menjadi tas, dompet, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Dia pun menyampaikan pula agar membuang sampah pada tempat yang disediakan di TPS terdekat mulai jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Tidak membuang sampah ke sungai karena sesuai Perda Nomor 2 tahun 2011 jika membuang sampah ke sungai akan dikenakan kurungan penjara 3 bulan dan atau denda maksimal 50 juta. Serta tidak boleh membakar sampah.

 
 
Written by October 16 2019

Staf Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Samarinda Milawati menuturkan, bahwa adiwiyata merupakan salah satu program DLH dalam rangka menciptakan warga sekolah khususnya untuk dapat memiliki karakter peduli lingkungan.

Hal tersebut diungkapkannya saat melakukan sosialisasi sekolah adiwiyata di Kecamatan Sambutan, (7/10/2019). 

urut dihadiri dari Kabid Pengembangan SD Dinas Pendidikan Samarinda Djoko Iriandono, Kasi Kurikulum SD Dinas Pendidikan Samarinda Nurwina Rahmayanti, Ketua Forum Sekolah Adiwiyata Samarinda Heri Gunawan, Staf Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, DLH Samarinda Milawati.

Kegiatan yang diprakarsai oleh Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sambutan ini diikuti peserta dari SDN 001, SDN 002, SDN 003, SDN 004, SDN 005, SDN 006, SDN 007, SDN 008, SDN 009, SDN 010, SDN 011, SDN 012, SDN 013, SDN 014, SD Islam Terpadu Madina Samarinda, SD Nasional Tiga Bahasa Samarinda, dan SD Islam Terpadu Al Anshar Samarinda.

Sosialisas adiwiyta di sekolah wilayah sambutan

“Arah dari program sekolah adiwiyata yakni untuk pendidikan karakter untuk warga sekolah khususnya bagi para pelajar. Adiwiyata adalah program yang bersifat edukatif, partisipatif dan berkelanjutan,” katanya.

Dia menyebutkan, adiwiyata ini tidak hanya bagaimana penanganan lingkungan dan sampah saja, tetapi menyeluruh hingga di kurikulum pembelajaran. Pihaknya pun mengadakan sosialiasi ini untuk meluruskan bahwa adiwiyata bukan lomba tetapi pencapaian yang dipersiapkan dan dilakukan tidak rumit, tidak menghabiskan banyak biaya, dan dengan melakukan inovasi berwawasan lingkungan pun sudah melakukan adiwiyata.

“Harapan kami akan terbuka wawasan bagi warga sekolah sehingga tidak menutup diri terhadap program pemerintah. Karena selama ini sekolah masih salah persepsi terhadap adiwiyata, pada umumnya sekolah-sekolah menganggap adiwiyata itu program yang memerlukan biaya mahal, padahal tidak seperti itu. Oleh karena itu, melalui sosialisasi ini juga kami ingin meluruskan pemahaman terhadap program sekolah adiwiyata,” jelasnya. 

Mila menyebutkan, adiwiyata sudah digaungkan sejak 2006 lalu dan hingga saat ini baru ada 53 sekolah di Samarinda yang telah mempunyai sekolah adiwiyata.

“Kami berkeinginan untuk menyatukan persepsi adiwiyata di sekolah-sekolah, sehingga mereka pelaku pendidik dapat mengetahui dan memahami sehingga diharapkan dapat mewujudkan sekolah adiwiyata yang peduli dan berbudaya lingkungan. Bahwa adiwiyata itu bukan lomba, tetapi pencapaian dari beberapa kriteria sekolah adiwiyata,” paparnya. 

Jelas Mila lebih lanjut, program adiwiyata terintegrasi di dalam akreditasi, RPP, kurikulum, profil sekolah, silabus, 8 standar dan kegiatan siswa yang berintegrasi dengan lingkungan.

“Diharapkan adiwiyata bisa mengajak anak dalam pembiasaan, tanggung jawab, kebersamaan, peduli lingkungan. Yang utama adalah edukasi ke siswa terkait karakter lingkungan,” tambahnya.

Written by October 16 2019

Kasi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Samarinda, Norsamah menyebut, pramuka sebagai agen baru DLH yang disebut sebagai agen pecinta dan pejuang lingkungan.

Dia mengatakan, di masa akan datang dengan pendidikan dan latihan Saka Kalpataru yang diperuntukkan bagi golongan pramuka penegak usia 16 hingga 19 tahun dan golongan pandega usia 20 hingga 25 tahun ini dapat mencetak technopreneur di bidang pengelolaan sampah, profesi ahli lingkungan hidup di bidang pengelolaan limbah, daur ulang dan sebagainya, serta menjadi kader pemberdayaan masyarakat di bidang pembangunan lingkungan Hidup berkelanjutan. 

Dalam Saka Kalpataru, para anggota pramuka pun diberikan bimbingan terkait Krida 3R (Reduce, Reuse dan Recycle), Krida Perubahan Iklim dan tentang Krida Keanekaragaman Hayati. Dengan masing-masing krida terbagi lagi menjadi beberapa Syarat Kecakapan Khusus (SKK).

“SKK Krida 3R meliputi komposting, daur ulang dan bank sampah. SKK perubahan iklim meliputi konservasi dan hemat air, energi listrik dan transportasi hijau. SKK keanekaragaman hayati meliputi pelestarian sumber daya genetik, ekosistem dan jasa lingkungan,” jelasnya.

Dia pun menginginkan, dengan melibatkan pramuka dapat membantu pihaknya, khususnya pemerintah dalam pengurangan sampah dan pelestarian lingkungan. 

“Pengurangan sampah khususnya penggunaan kantong plastik, mengkampanyekan budaya “Zero Waste” artinya budaya bebas sampah dengan membiasakan diri untuk tidak menggunakan kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Serta dapat menularkan budaya cinta lingkungan ini ke lingkungan sekitar mereka,” jelasnya.

Dia pun menyampaikan pula, agar membuang sampah pada tempat yang disediakan di TPS terdekat mulai jam 6 sore hingga jam 6 pagi. Tidak membuang sampah ke sungai karena sesuai Perda Nomor 2 tahun 2011 jika membuang sampah ke sungai akan dikenakan kurungan penjara 3 bulan dan atau denda maksimal 50 juta. Serta tidak boleh membakar sampah.

 
Written by October 16 2019

Dinas Lingkungan Hidup Samarinda semakin gencar menyosialisasikan ke masyarakat untuk peduli dan tertib dalam pengelolaan sampah.

Seperti halnya tempat membuang sampah, yang dilarang tidak hanya di sembarang tempat saja, tetapi juga tidak diperkenankan membuang sampah di sungai. 

Terlihat pada Sabtu (12/10/2019) pihaknya melakukan aksi kampanye di sekitar bantaran Sungai Karang Mumus dengan melibatkan komunitas mahasiswa peduli lingkungan.

Kasi Penegakan Hukum Lingkungan DLH Samarinda Erwin Agus mengatakan, sosialisasi ini untuk memberikan informasi tentang pelarangan membuang apapun atau sampah di sepanjang sungai.

Pihak DLH Samarinda saat sosialisasi kepada masyarakat sekitar agar tidak membuang sampah ke sungai

“Ini kami lakukan karena sesuai di Pasal 47 Perda Kota Samarinda Nomor 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Sampah salah satunya tidak boleh membuang apapun terlebih sampah ke sepanjang bantaran sungai,” katanya. 

Meskipun sungai mempunyai fungsi mampu memperbaharui dirinya sendiri menjadi jernih, tetapi jika terlalu banyak menampung sampah yang tertumpuk di sungai, pencemaran dan lain sebagainya maka sungai tersebut pun tidak akan mampu menampung lagi dan melakukan pembaharuan tersebut.

Dijelaskan bahwa di Perda tersebut, jika melanggar membuang sampah di sungai akan dikenakan Sanksi pidana kurungan paling lama 3 bulan atau Denda maksimal lima puluh juta rupiah.

 
Page 1 of 10

Kontak Kami

Dinas Lingkungan Hidup Kota Samarinda

Jl. MT. Haryono, Rawa Indah - Samarinda 75125

Telepon.

Fax.

Foto Kegiatan

Foto Kegiatan

PEMANTAUAN KUALITAS LINGKUNGAN Pendidikan Lingkungan Pengelolaan Sampah Berbasis 3R Sosialisasi Pengelolaan Sampah